Instansi Perkeretaapian di Indonesia

Instansi Perkeretaapian di Indonesia

Kereta api merupakan salah satu moda transportasi yang sangat digemari oleh masyarakat di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan mereka yang tinggal di Ibu Kota Jakarta. Kereta api menjadi alternatif pilihan transportasi rakyat yang bebas dari kemacetan jalan raya. Di era sekarang, kereta api menjadi pilihan bagi masyarakat untuk mencari kepraktisan serta kenyamanan untuk mencapai tempat tujuan. Pada artikel ini kita bahas tentang Instansi Perkeretaapian Nasional agar pembaca mendapat pengetahuan perkeretaapian saat ini di Indonesia.

Direktorat Jenderal Perkeretaapian

Instansi pertama di bidang perkeretaapian yang berhubungan tentang regulasi atau sebagai regulator, yaitu Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Direktorat Jenderal Perkeretaapian merupakan Direktorat dibawah Kementerian Perhubungan yang didirikan pada tahun 2005 serta mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang perkeretaapian. Direktorat Jenderal Perkeretaapian dipimpin oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian. Direktur Jenderal Perkeretaapian saat ini adalah Bapak Zulfikri. Unit kerja di Direktorat Jenderal Perkeretaapian antara lain:

  1. Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian
  2. Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api
  3. Direktorat Prasarana Perkeretaapian
  4. Direktorat Sarana Perkeretaapian
  5. Direktorat Keselamatan Perkeretaapian
  6. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jakarta & Banten
  7. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Barat
  8. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah
  9. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Timur
  10. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Wilayah Sumatera Barat
  11. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Wilayah Sumatera Utara
  12. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Wilayah Sumatera Selatan
  13. Balai Pengujian Perkeretaapian
  14. Balai Perawatan Perkeretaapian
  15. Balai Pengelola KA Ringan Sumsel
  16. Balai Pengelola KA Sulawesi

Gambar 1. Logo Kementerian Perhubungan

Beberapa kegiatan dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian yaitu penyusunan regulasi perkeretaapian, pembangunan proyek perkeretaapian, pengujian prasarana, sarana & SDM perkeretaapian, pendinasan (switch over) proyek perkeretaapian, dan masih banyak kegiatan lainnya.

Gambar 2. Pengujian CTS Mangarai

PT. KAI (Persero)

Setelah membahas regulator, kita bahas instansi pertama sebagai operator, yaitu PT. KAI (Persero). PT. KAI (Persero) merupakan BUMN yang didirikan pada 28 September 1945 dan bertugas menyelenggarakan jasa angkutan kereta api baik penumpang dan barang. PT. KAI dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang saat ini oleh Bapak Didiek Hartantyo. Saat ini, PT. KAI memiliki beberapa wilayah operasi kereta api, antara lain:Daerah Operasi I Jakarta

  1. Daerah Operasi II Bandung
  2. Daerah Operasi III Cirebon
  3. Daerah Operasi IV Semarang
  4. Daerah Operasi V Purwokerto
  5. Daerah Operasi VI Yogyakarta
  6. Daerah Operasi VII Madiun
  7. Daerah Operasi VIII Surabaya
  8. Daerah Operasi IX Jember
  9. Divisi Regional I Sumatera Utara dan Aceh
  10. Divisi Regional II Sumatera Barat
  11. Divisi Regional III Palembang
  12. Divisi Regional IV Tanjungkarang
Gambar 3. Logo PT. KAI

Dari 9 Daerah Operasi dan 4 Divisi Regional tersebut, hal yang menarik adalah Divisi Regional III Palembang yang dipercaya oleh Direktorat Jenderal Perkertaapian untuk mengoperasikan LRT Sumatera Selatan. LRT Sumatera Selatan sendiri merupakan sistem angkutan cepat dengan model Lintas Rel Terpadu yang menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Kompleks Olahraga Jakabaring. Terdapat 13 stasiun dan 1 depo yang telah beroperasi sejak 6 Oktober 2018. Depo yang telah beroperasi terletak di Jakabaring. Sedangkan 13 stasiun tersebut yaitu:

  1. Stasiun Bandara SMB II
  2. Stasiun Asrama Haji
  3. Stasiun Punti Kayu
  4. Stasiun RSUD
  5. Stasiun Garuda Dempo
  6. Stasiun Demang
  7. Stasiun Bui Sriwijaya
  8. Stasiun Dishub
  9. Stasiun Cinde
  10. Stasiun Ampera
  11. Stasiun Polresta
  12. Stasiun Jakabaring
  13. Stasiun DJKA

Gambar 4. Kereta LRT Palembang

Saat ini PT. KAI memiliki 6 anak perusahaan, yaitu PT. Reska Multi Usaha, PT. Railink, PT. Kereta Commuter Indonesia, PT Kereta Api Pariwisata, PT. Kereta Api Logistik dan PT. KA Properti Manajemen (2009). Selanjutnya kita bahas sedikit tentang PT. Kereta Commuter Indonesia dan PT. Railink.

PT. Kereta Commuter Indonesia (KCI) adalah anak perusahan PT. KAI (Persero) yang didirikan pada 15 September 2008 dan bertugas menyelenggarakan pelayanan jasa angkutan kereta api KRL di wilayah Jabodetabek (Daerah Operasi 1 Jakarta) dan Jogyakarta-Solo Balapan (Daerah Operasi 6 Yogyakarta). Selain bertugas menyelenggarakan jasa angkutan KRL, PT. KCI juga ditugaskan untuk menyelenggarakan jasa angkutan KA Pramabnan Ekspress Yogyakarta-Kutoarjo. Pada 1 Juli 2013, PT. KCI menerapkan E-Ticketing dan tarif progresif. Selama tahun 2020, PT. KCI melayani penumpang sejumlah 154.592.886. Hingga Maret 2021, total terdapat 1.196 unit KRL yang beroperasi di Daerah Operasi 1 Jakarta.

Gambar 5. Pengoperasian KRL

PT. Railink adalah anak perusahan PT. KAI (Persero) yang didirikan pada 28 September 2006 dan bertugas menyelenggarakan pelayanan jasa angkutan Kereta Bandara Kualanamu dan Soekarno-Hatta. PT. Railink melayani rute Manggarai sampai Bandara Soekarno-Hatta sepanjang 36,3 km, 70 jadwal keberangkatan tiap hari, headway 30 menit serta kapasitas angkut 33.728 penumpang her hari. Sedangkan untuk rute Medan-Bandara Kualanamu memiliki kapasitas 172 penumpang per kereta, dapat mengangku 3.000-4.000 penumpang per hari serta 1,3 juta penumpang per tahun.

Gambar 6. Pengoperasian Kereta Bandara

PT MRT Jakarta

Selanjutnya kita bahas operator di bidang perkeretaapian kedua yaitu PT. MRT Jakarta. PT. MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta adalah Badan Usaha milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang didirikan pada 17 Juni 2008 dengan ruang lingkup kegiatan pembangunan prasarana dan sarana MRT, pengoperasian dan perawatan prasarana dan sarana MRT, serta pengembangan dan bisnis di stasiun dan depo sekitarnya. PT. MRT Jakarta dipimpin oleh Direktur Utama, dimana saat ini dijabat oleh Bapak William Sabandar.

Gambar 7. Logo PT. MRT Jakarta

Saat ini terdapat 13 stasiun, 1 depo serta 1 OCC (Operation Control Center) yang telah beroperasi dalam fase 1 sejak Maret 2019. Depo dan OCC yang telah beroperasi terletak di Lebak Bulus. Dari 13 stasiun tersebut, terdapat 7 stasiun layang (elevated) dan 6 stasiun bawah tanah (underground). Adapun 13 stasiun fase 1 yang telah beroperasi sebagai berikut.

  1. Stasiun Lebak Bulus Grab
  2. Stasiun Fatmawati
  3. Stasiun Cipete Raya
  4. Stasiun Haji Nawi
  5. Stasiun Blok A
  6. Stasiun Blok M BCA
  7. Stasiun ASEAN
  8. Stasiun Senayan
  9. Stasiun Istora Mandiri
  10. Stasiun Bendungan Hilir
  11. Stasiun Setiabudi Astra
  12. Stasiun Dukuh Atas BNI
  13. Stasiun Bundaran HI

Setelah fase 1 beroperasi, fase 2 dibangun sepanjang 11,8 km dari Bundaran HI sampai Ancol Barat. Proyek pembangunan fase 2 ini terdiri dari 2 tahap, yaitu fase 2A dan 2B. Fase 2A dengan total panjang 5,8 km terdiri dari 7 stasiun bawah tanah (underground). 7 stasiun bawah tanah tersebut yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok dan Kota. Sedangkan fase 2B dengan total panjang sekitar 6 km terdiri dari 2 stasiun bawah tanah (underground) dan 1 depo. 2 stasiun bawah tanah tersebut yaitu Mangga Dua dan Ancol. Sedangkan 1 depo tersebut berada di Ancol Barat.

Hal menarik dari PT. MRT Jakarta adalah sistem persinyalannya menggunakan CBTC (Communication Base Train Control) dengan Grade of Automation (GoA) level 2. CBTC merupakan pengendalian kereta dengan menggunakan frekuensi radio sebagai media komunikasi data antar sejumlah sub-sistem yang terintegrasi untuk dikontrol oleh Operation Control Center (OCC). Sedangkan GoA level 2 masih melibatkan masinis dimana masinis tersebut bertugas membuka dan menutup pintu kereta serta stand-by jika terdapat keadaan darurat yang mengharuskan kereta dioperasikan dengan mode manual.

Gambar 8. Kereta Ratangga PT. MRT Jakarta

PT. LRT Jakarta

Sekarang kita bahas operator di bidang perkeretaapian ketiga yaitu PT. LRT (Lintas Raya Terpadu) Jakarta. PT. LRT Jakarta merupakan anak perusahaan PT. Jakarta Properindo (BUMD DKI Jakarta) yang didirikan pada 16 April 2018 yang menghadirkan moda transportasi publik baru yang didedikasikan untuk masyarakat menuju era mobilitas ramah lingkungan. PT. LRT Jakarta dipimpin oleh Direktur Utama yang saat ini dijabat oleh Bapak Wijanarko.

Terdapat 6 stasiun layang dengan panjang jalur 5,8 km dan 1 depo yang sudah beroperasi sejak 1 Desember 2019. Depo yang telah beroperasi berada di Pegangsaan Dua. Adapun keenam stasiun tersebut yaitu:

  1. Stasiun Pegangsaan Dua
  2. Stasiun Boulevard Utara
  3. Stasiun Boulevard Selatan
  4. Stasiun Pulomas
  5. Stasiun Equestrian
  6. Stasiun Velodrome
Gambar 9. Kereta LRT Jakarta

PT. KCIC

Selanjutnya kita bahas nih operator di bidang perkeretaapian keempat yaitu PT. KCIC. PT. KCIC merupakan perusahaan patungan yang didirikan untuk membangun kereta cepat sejauh 142.3 km antara Jakarta dan Bandung. Perusahaan ini konsorsium BUMN bernama PT. Pilar Sinergi BUMN Indonesia yang dipimpin oleh PT. Wijaya Karya. PT. KCIC dipimpin oleh seorang Direktur Utama, yang saat ini dijabat oleh Bapak Dwiyana Slamet Riyadi.

Saat ini, proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung masih dalam tahap konstruksi. Dalam pembangunan tersebut, akan ada 4 stasiun dan 1 depo. 4 stasiun tersebut antara lain Halim, Karawang, Padalarang dan Tegalluar. Sedangkan depo berada di Tegalluar. Dari 4 stasiun tersebut, ada 1 yang menarik perhatian yaitu Wailin. Walini merupakan se sebuah area pebukitan yang dikenal dengan perkebunan dan produk teh. Dengan total luas wilayah 1.270 hektar, Walini akan menjadi salah satu lokasi stasiun kereta sekaligus wilayah pemukiman baru yang modern yang dikembangkan dengan prinsip-prinsip pebangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan. Hal yang menarik lain dari PT. KCIC adalah waktu tempuh kereta cepat dari Halim-Tegalluar sekitar 45 menit dengan kecepatan bisa mencapai 350 km/jam.

Gambar 10. Pembangunan Proyek PT. KCIC

PT. Len Industri (Persero)

Setelah kita mengenal Direktorat Jenderal Perkeretaapian serta beberapa operator di bidang perkeretaapian, terakhir kita kenali salah satu kontraktor di bidang perkeretaapian yaitu PT. Len Industri (Persero). PT. Len Industri (Persero) merupakan BUMN yang didirikan pada tahun 1965 dengan melakukan design & engineering, pengembangan produk, manufaktor, testing & commissioning, konstruksi & instalasi, serta operasi dan pemeliharaan pada bisnis elektronika industri. PT. Len Industri (Persero) dipimpin oleh seorang Direktur Utama, yang saat ini dijabat oleh Bapak Bobby Rasyidin.

Salah satu bisnis yang telah dikembangkan oleh PT. Len Industri (Persero) di bidang perkeretaapian. Secara umum, produk dari PT. Len Industri (Persero) antara lain

  1. Railway Signalling System (SiLSafe, SiLTrack, SiLMove, SiLVue)
  2. Railway Telecommunication System
  3. Railway Traction System
  4. Railway Substation System

Sedangkan secara khusus, PT. Len Industri (Persero) pada bidang perekretaapian melakukan design & manufaktur komponen. Komponen tersebut seperti Interlocking Rack, Telecommunication Rack, Main Distribution Panel, Level Crossing Control Console, Pintu Perlintasan Sebidang, Modul Sinyal Elektrik, Link Brake Device dan Visual Control Panel.

Gambar 11. Logo PT. Len Industri (Persero)

Adapun anak perusahaan dari PT. Len Industri (Persero) antara lain:

  1. PT. Eltran Indonesia
  2. PT. Surya Energi Indotama
  3. PT. Len Railway Systems
  4. PT. Len Telekomunikasi Indonesia

Dari 4 anak perusahaan tersebut, PT. Len Railway Systems merupakan anak perusahaan yang berfokus pada bidang perkeretaapian. PT. Len Railway Systems melakukan design, manufaktur (di PT. Len Industri), testing, commissioning, installation, maintenance (di PT. Len Rekaprima Semesta) dan training. PT. Len Railway Systems dipimpin oleh Direktur Utama yang saat ini dijabat oleh Bapak Agung Darmawan.

Engineer di PT. Len Railway Systems sudah memiliki pengalaman di bidangnya, bersertifikat internasional (IRSE License), bersertifikat profesi insinyur oleh Institut Teknologi Bandung/Universitas Gadjah Mada dan PII (Persatuan Insinyur Indonesia), serta beberapa lisensi lainnya. Proyek pembangunan sistem persinyalan, telekomunikasi dan substation perkeretaapian yang telah dilaksanakan oleh PT. Len Railway Systems dan PT. Len Industri serta telah diresmikan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian antara lain pada proyek:

  1. Double Track Cirebon-Surabaya
  2. Double Double Track Manggarai-Cikarang
  3. Double Track Kertapati-Prabumulih
  4. Double Track Solo-Jogja
  5. Double Track Baturaja-Martapura
  6. Double Track Purwokerto-Kroya
  7. Double Track Kroya-Kutoarjo
  8. Double Track Solo-Kedungbanteng
  9. Double Track Kedungbanteng-Madiun
  10. Double Track Madiun-Jombang
  11. Double Track Jombang-Mojokerto
  12. Bandar Tinggi-Kuala Tanjung
  13. Binjai-Besitang
  14. Medan-Kualanamu
  15. APMS Bandara Soekarno-Hatta
  16. LRT Sumatera Selatan
Gambar 12. Proses design di PT. Len Railway Systems

PT. Len Railway Systems memiliki anak perusahaan yaitu PT. Len Rekaprima Semesta. PT. Len Rekaprima Semesta bergerak di bidang operation & maintenance perkeretaapian seperti sistem persinyalan, telekomunikasi, substation dan penggerak sarana. Beberapa proyek operation dan/maintenance telah dan saat ini dikerjakan oleh PT. Len Rekaprima Semesta antara lain Double-Double Track Manggarai-Cikarang, Double Track Baturaja-Martapura, Double Track Purwokerto-Kroya, Double Track Kroya-Kutoarjo, Double Track Solo-Kedungbanteng, Double Track Kedungbanteng-Madiun, Double Track Madiun-Jombang, Double Track Jombang-Mojokerto, Medan-Kualanamu, APMS Bandara Soekarno-Hatta dan LRT Sumatera Selatan.

Gambar 13. Maintenance oleh PT. Len Rekaprima Semesta

Contributor: MRU

Daftar Pustaka: https://s.id/J9D5w

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *